Delapan belas tahun, yah... delapan belas tahun adalah sebuah waktu yang cukup panjang untuk menapaki sebuah perjalanan dan mengarungi sebuah bahtera di tengah hiruk pikuk globalisasi industri.
Delapan belas tahun... bila dianalogikan dengan seorang gadis, Dialah sosok yang muda, cantik, dan energik memasuki usia yang matang. Bahkan siap memasuki dunianya yang baru...
Itulah perumpamaan... perjalanan sebuah Perusahaan tempat aku berkarir dan menggantungkan hajat hidup dunia untuk sekedar memenuhi isi perut untuk bertahan hidup dan selebihnya untuk menegakkan pilar-pilar penyangga rumah tangga.
Delapan belas tahun yang lalu, ketika aku diizinkan bergabung dengan Perusahaan ini besar sekali harapan yang aku gantungkan kepadanya.
Yang aku pikirkan saat itu adalah sebuah profesionalisme dan tuntutan hidup.
Masih terbayang dengan jelas ketika hari-hari pada tahun pertama sebagian memandangku sebelah mata, entah apa dan kenapa... tetapi itu aku jalani dengan tabah dan ringan saja. Kuserahkan saja kepada waktu dan rotasi bumi yang menjawabnya...
Waktu yang serasa cepat bergulir laksana bergulirnya siang digulung malam dan malam disingkap oleh siang inilah yang membuat waktu meluncur ke arah jarum 18 tahun. Sementara sudah sekian banyak teman sekerja pergi dan datang untuk menghabiskan hari dalam aktivitas pabrik.
Tentu saja menyebabkan dinamika dalam berbagai segi yang antara lain struktur.
Ternyata harapan dapat bekerja secara profesional yang dulu aku impikan itu hanya sebuah dongeng. Kini aku merasa 'berdosa' karena ketika wisuda telah bersumpah untuk menjaga profesionalisme dalam bekerja.
Sebenarnya secara tak sadar, benih-benih ketidakprofesiolan itu sudah ada ketika penerimaan analis-analis yang dites oleh orang2 yang sebenarnya kurang faham bekerja di Laboratorium, terlebih ketika bekerja supervisinya di bawah kendali mereka. Maka tak ayal lagi, Laboratorium seperti kandang ayam.
Maka budaya dan habit seperti apa selanjutnya? bisa dibayangkan kan...
Kini, Ibarat aku diperintahkan untuk merehabilitasi pecandu narkoba, atau setidaknya untuk menghentikan kebiasaan merokok, maka bisa dibayangkan seperti apa sulitnya? bila tidak timbul dari diri sendiri kesadarannya...
Namun terlepas dari itu semua, tulisan ini bukan untuk bermaksud mengeluh dan merasa lebih baik dari yang lain. Aku yakin semua ini penuh hikmah dan aku bersyukur dan ikhlas menerima semua ini...
Semoga Allah mengampuniku ...

0 komentar:
Posting Komentar